Pangsi, Pakaian Adat Jawa Barat yang Kaya Filosofi

Indonesia merupakan negara yang terkenal atas keragaman budayanya. Setidaknya, terdapat 1.340 suku budaya di Indonesia. Hal tersebut menyebabkan Indonesia sangat kaya dengan beragam kultur.
Salah satu suku yang cukup besar dan ternama adalah suku Sunda. Suku Sunda yang berada di area Jawa Barat juga memiliki pakaian khas daerahnya, yaitu pakaian adat Pangsi.

Pangsi, pakaian adat khas Jawa Barat ini merupakan sebuah singkatan dari “Pangeusi numpang ka sisi” yang berarti pakaian penutup tubuh yang cara pemakaiannya dililitkan secara menumpang seperti sarung. Pangsi terdiri atas dua bagian, yaitu bagian atas (baju) yang juga dikenal sebagai “salontreng” dan bagian bawah (celana) yang juga dikenal sebagai “pangsi”. Sedangkan slot gacor hari ini, umumnya penyebutan pakaian adat pangsi adalah untuk pakaian tersebut secara keseluruhan, dari atas hingga bawah.

Selain memiliki fungsi untuk menutup dan melindungi tubuh, pangsi memiliki banyak filosofi. Meskipun tidak tertulis, filosofi tersebut sudah beredar secara turun temurun dari “sesepuh baheula” atau orang-orang jaman dahulu.

Sebagai pakaian adat asal Jawa Barat Pangsi secara umum memiliki tiga makna, yaitu “Tangtung, Nangtung, Samping”.

Tangtung
Merupakan singkatan dari “Tangtungan Ki Sunda Nyuwu Kana Suja” yang berarti mempunyai pendirian https://www.wisatacobangoajalmo.com/ yang teguh dan kuat.

Nangtung
Merupakan singkatan dari “Nangtung, Jejeg, Ajeg dina Galur. Teu Unggut Kalinduan, Teu Gedag Kaanginan” yang berarti teguh dan kuat pendirian dalam aturan dan keyakinan, memiliki semangat tinggi dan tidak mudah goyah.

Samping
Mengandung arti “Depe Depe Handap Asor” yang berarti selalu rendah hati dan tidak sombong.

Desain pakaian pangsi juga tidak lepas dari filosofi, seperti kancingnya yang berjumlah 5 atau 6. Jumlah tersebut mengacu pada ajaran Islam. Lima kancing menunjukkan rukun Islam, sedangkan 6 kancing menunjukkan rukun iman.

Salah satu ciri khas pangsi adalah sambungan https://cdkosong.com/ jahitan antara badan dan lengan yang diberi nama beungkeut yang memiliki filosofi “Ulah suka-siku ka batur, kudu sabeungkeutan, sauyunan, silih asah, silih asih, silih asuh, kadituna silih wangi, (“Dilarang berperilaku licik kepada sesama, harus menyatu dalam ikatan batin, saling menasehati, mengasihi, dan menyayangi dan mengharumkan nama baik”).